Senin, 11 April 2011

Filosofi awal kerasulan MUHAMMAD SAW


Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT. Kedatangan Nabi Muhammad sudah diberitahukan kepada Nabi-nabi sebelumnya. Nabi Muhammad diutus untuk membenarkan aqidah Nabi-nabi sebelumnya bahwa tiada Tuhan selain Allah SAW.

Sebelum Muhammad diangkat sebagai seorang Rasul pada usia 40 tahun, Muhammad mengalami beberapa pengalaman hidup, di mana yang dialami oleh Muhammad memiliki arti dan filosofi tersendiri.

Bertahannus di gua hiro

Muhammad SAW sudah terbiasa bertahannus di gua hiro sebelum Beliau diangkat menjadi Rasul. Kebiasaan itu dilatar belakangi oleh kejahiliahan orang-orang kafir Quraisy, di mana kemaksiatan merajalela, pembunuhan sesuatu hal yang biasa, wanita tidak dihargai layaknya manusia, jika lahir bayi perempuan maka bayi itu dikubur hidup-hidup. Masyarakat melupakan Tuhan, masyarakat banyak yang menyembah berhala, perbudakan di mana-mana, mabuk-mabukan, berjudi, dan masih banyak lagi. Melihat kebobrokan masyarakat Quraisy itu, Muhammad pun selalu bertahannus (berdiam diri) di dalam gua hiro.

Muhammad bertahannus di gua hiro merupakan bentuk penolakan terhadap kemaksiatan dan kebobrokan akhlak serta keterpurukan masyarakat Quraisy pada waktu itu. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan oleh Muhammad kecuali berdiam diri di gua hiro dalam keadaan resah. Di gua hiro, Rasulullah selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, memikirkan dan menyesalkan fenomena kehancuran kehidupan kaum kafir Quraisy, serta menyayangkan kemungkaran masyarakat tersebut.. Maka dari itu, dari pada melihat kemungkaran di depan mata maka lebih baik bertahannus di gua hiro untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nilai dan filosofi bertahannus di gua hiro

Pelajaran yang dapat diambil berkenaan dengan kebiasaan Nabi bertahannus di gua hiro adalah, sebagai berikut :

1. Mendekatkan diri kepada Allah merupakan jalan utama untuk mengatasi segala permasalahan. Jika ada sesuatu apapun yang menjadi kebuntuhan pikiran, maka kembalikanlah kepada Allah SWT. Hal itu dicontohkan Rasul, bahwa Rasul bertahaannus, menghabiskan waktu di gua hiro adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dari pada melihat kemungkaran di mana-mana.

2. Menghindari kemungkaran. Pada saat itu Muhammad bertahannus di gua hiro merupakan bentuk penghindaran diri dari kemunkaran. Bertahannus merupakan bentuk penolakan terhadap kemaksiatan. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berdiam diri. Selain itu, bertannus merupakan bentuk keresahaan Muhammad terhadap keterpurukan masyarakat. Maka filosofinya adalah hindarkanlah kemunkaran dan senantiasalah resah dengan kemunkaran. Jika hari ini tidak ada keresahan sedikit pun di hati ini, maka pertanyakanlah kembali “adakah keimanan di dalam diri ini?”. Sebab dalam hadistnya, yang juga termaktub dalam kitab arba’in Nawawi disebutkan : “siapa yang melihat diantara kamu kemunkaran, maka cegahlah ia dengan tanganmu! Maka jika kamu tidak sanggup, maka dengan lisanmu! Maka jika tidak sanggup juga, maka dengan hatimu! Dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. Yang senantiasa harus dipertanyakan adalah, tidakkah kita senantiasa melihat kemunkaran di depan mata? Apa yang dilakukan? Merubahnya dengan kekuasaan? Berdakwah dengan lisan? Atau menolaknya dengan hati? Adakah keresahan di dalam hati jika terlihat kemunkaran? Bersyukurlah jika masih ada, sebab jika tidak, di mana lagi letak keimanan bersembunyi? Padahal Rasul mengatakan menbenci dengan hati adalah selemah-lemahnya iman! Jika tidak benci maka kelemahan yang nomor berapa lagi yang dimiliki?

Menerima wahyu pertama (iqro’=membaca)

Setelah sering bertahannus di gua hiro, kejadian yang pernah dialami oleh Muhammad selanjutnya adalah penerimaan wahyu pertama dari ALLAH SWT melalui perantara malaikat Jibril. Pada saat itu wahyu pertama yang turun adalah surat al-‘alaq dengan kalimat pertama berbunyi iqro’! Maka, Muhammad pun tidak bisa membaca, sebab Muhammad adalah orang yang Ummiy dan mengatakan kepada Jibril “maa ana biqoori’”

Pelajaran yang dapat diambil dari penerimaan wahyu tersebut adalah :

1. Penerimaan wahyu merupakan tanda pengangkatan Muhammad menjadi seorang Rasul.

Hal ini mirip dengan beberapa pengangkatan Nabi-nabi terdahulu, di mana kaum dari Nabi-nabi terdahulu meminta agar nabi mereka memberikan bukti berupa mukjizat-mukjizat kepada kaumnya sehingga mereka percaya bahwa Nabi itu adalah utusan Allah. Maka begitu pulalah yang dialami oleh Muhammad di mana mukjizat yang pernah diterimanya yang terbesar adalah al-qur’an.

2. Dalam proses dakwah hendaknya melihat dan membaca keadaan masyarakat.

Makna iqra’ (bacalah) berbeda dengan tilawah (baca). Walaupun sama-sama memiliki arti membaca, namun terdapat perbedaan maksud. Tilawah berarti membaca dengan menggunakan teks, naskah atau sesuatu yang dapat dilihat untuk dibaca. Namun iqra’ berarti membaca tanpa menggunakan teks. Maka, ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Nabi bukanlah orang yang bodoh yang tidak mampu membaca, namun dalam konteks ini, Nabi tidak bisa membaca disebabkan yang dibaca tidak ada teksnya. Hal ini merupakan sebuah hal yang menggambarkan, jika mau membaca mana yang mau dibaca?

Namun dalam hal ini, terlepas dari itu semua makna iqra’ sesungguhnya luas sekali. Membaca yang dimaksud adalah membaca dalam konteks universal. Termasuk di dalamnya membaca fenomena, membaca keadaan, membaca kebesaran Allah, membaca kekuasaan Allah, membaca hikmah yang terkandung, membaca dalam konteks memikirkan. Maka pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa dalam proses dakwah hendaknya melihat dan membaca keadaan masyarakat secara universal. Ketika melihat kemunkaran di mana-mana, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membaca bagaimana mencegah kemunkaran tersebut. Jadi dalam hal ini, sesungguhnya setiap muslim tidak hanya harus resah melihat kemunkaran tetapi juga harus dibarengi dengan membaca. Membaca jalan keluar agar mampu mencegah kemunkaran.

3. Iqra’ adalah syariat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad untuk diikuti oleh kaumnya.

Iqra’ marupakan fi’il amr (kalimat perintah) yang mengisyaratkan manusia untuk membaca. Maka sebagai syariat pertama, hendaknya setiap muslim selalu membaca. Namun perlu digarisbawahi bahwa membaca yang dimaksud adalah membaca dalam konteks yang universal. Bukan hanya membaca tulisan, tapi juga membaca keadaan, membaca alam, membaca kekuasaan Tuhan, membaca untuk memikirkan.

Berselimut ketakutan

Setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah merasakan ketakutan yang luar biasa. Sehingga Rasul pun bergegas pulang dari gua hiro dan memilih berdiam diri di rumah dalam keadaan ketakutan. Karena rasa takut itu, kemudian Rasul meminta Siti Khadijah untuk menyelimutinya dengan selimut.

Pelajaran yang bisa diambil adalah

1. Hendaklah berhati-hati memegang sebuah amanah

Jika dipertanyakan, mengapa Rasulullah takut selepas menerima wahyu pertama? Apakah Jibril bermuka seram? Jika ya, mengapa Rasul masih berani bercakap-cakap dengan Jibril?

Maka pelajaran yang tersembunyi adalah hendaknya takutlah memegang amanah. Sebab apa yang dilakukan Rasulullah dengan berselimut ketakutan merupakan bentuk ketakutan tersendiri disebabkan karena Beliau menerima amanah sebagai seorang Rasul dengan datangnya wahyu pertama di gua hiro terdahulu. Sehingga dalam benaknya, wahyu pertama itu bentuk pengangkatan menjadi Rasul yang merupakan tugas berat. Sesuatu yang hari ini ditakuti dan dihindari harus dibenahi segera. Kemunkaran yang selama ini dihindari harus dibenahi segera. Dan ini merupakan tugas berat yang diemban oleh Nabi Muhammad yang lebih berat dari pemimpin pasukan perang sekali pun.

Filosopi yang terkandung di dalamnya adalah, amanah itu sangat berat tanggungannya. Maka jangan sembarangan mengemban amanah. Amanah harus ditanggung-jawabi. Memegang amanah merupakan bentuk ketakutan yang pernah dialami Rasulullah. Ketakutan atau keresahan memikul amanah itu senantiasa tercermin dalam diri Rasulullah hingga Beliau menjelang kembali kepada Rabbnya. Bukankah Rasullullah berkata di akhir hayatnya “ummati! Ummati! ummati!” yang seolah-olah ingin mengatakan bagaimana dengan umatku? Bagaimana dengan amanahku?

Hal ini mengajarkan kepada manusia, hendaklah merasa takut ketika diberi amanah. Namun, ketakutan yang dimaksud adalah takut tidak adil, takut tidak bisa ditanggungjawabi, takut ceroboh, takut menjadi jahat dan lain-lain. Maka, sebuah amanah mau tidak mau tetap akan diemban oleh setiap manusia. Maka jalan tengah yang harus dilakukan adalah hendaknya berhati-hati dalam memegang sebuah amanah. Layaknya keresahan dan ketakutan Rasul menerima wahyu pertama sebagai bentuk penerimaan amanah.

2. Ketakutan memegang amanah merupakan sebuah hal yang lumrah

Ketakutan yang dirasakan oleh Rasul merupakan sesuatu hal yang lumrah. Sebab hal itu sangat manusiawi, dikarenakan memikul amanah tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Banyak yang harus dilaksanakan dan ditanggungjawabi. Maka seyogyanya bagi setiap manusia hendaklah takut ketika diberi amanah. Amanah yang dulu diberikan oleh gunung, lautan tidak dapat disanggupi oleh mereka, dan amanah sebagai kholifatu fil ardh itu pun jatuh kepada manusia.

Maka ketakutan memegang amanah merupakan sebuah hal yang lumrah. Namun dalam hal ini, ketakutan yang dimaksud bukanlah harus mengelak dari sebuah amanah, namun menjaga amanah itu atau menyerahkannya kepada yang lebih baik. Sebab rasul pun berkata “jika amanah itu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah saatna”

Wahyu kedua (al-mudattsir)

Saat Rasulullah berdekap ketakutan dengan selimut, maka turunlah wahyu yang kedua, yang berbunyi : “wahai orang yang berselimut!(1) Bangunlah, lalu berilah peringatan! (2)dan agungkanlah Tuhanmu!(3) dan bersihkan pakaianmu! (4) dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji! (5) dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak (6) dan karena Tuhanmu bersabarlah!(7............)” dan seterusnya

Pelajaran yang dapat diambil :

1. Ayat ini merupakan perintah dakwah

Di awal, ketika Rasulullah bertahannus, hal itu merupakan bentuk penolakan dan penghindaran diri Muhammad terhadap kemunkaran. Maka dengan turunnya ayat ini, pelajaran yang dapat diambil adalah hendaknya kita berdakwah. Keimanan seorang muslim akan naik ke atas dengan cara berdakwah, bukan lagi hanya resah di dalam hati saja! Bukan lagi hanya bertahannus, berdiam diri, menghindari kemunkaran tanpa usaha pencegahan.

Ayat ini menegaskan kembali bahwa tugas kerasulan Muhammad sudah disahkan lewat wahyu pertama, maka selanjutnya adalah implementasi terhadap kerasulan itu. Namun dalam hal ini, tugas dakwah yang diemban Rasul bukan hanya diperuntukkan oleh Muhammad, tetapi juga umat muslim keseluruhan.

2. Wahai orang yang berselimut

Di atas, diterangkan bahwa menerima amanah dengan turunnya wahyu pertama merupakan sesuatu hal yang ditakuti. Sebab tanggung jawabnya besar. Sehingga Rasulpun berselimut.

Ayat ini merupakan teguran kepada Nabi Muhammad. Yang seolah mengatakan bahwa, Kamu sudah diberi amanah, mengapa harus takut? Mengapa harus berdiam diri? Mengapa harus berselimut?

Bagi umat muslim hari ini, makna berselimut memiliki pengertian yang universal. Makna orang yang berrselimut bisa saja diartikan “ wahai orang yang berdiam diri! Wahai orang yang tertidur! Wahai orang yang berleha-leha! Wahai orang yang lalai! Wahai orang yang bermalas-malasan! Wahai orang yang lebih banyak tidurnya dari bangunnya! Wahai orang yang memiliki ilmu!” di mana teguran itu merupakan seruan untuk setiap muslim yang masih belum tersadar dari tugas dakwahnya.

3. Bangunlah lalu berilah peringatan

Ayat kedua merupakan perintah “bangunlah lalu berilah peringatan!”. Ayat ini mengindikasi, setelah diberi amanah hendaknya jangan terlalu memikirkan resiko yang akan dihadapi, tapi bangunlah! Ayat ini memberi pelajaran, bahwa amanah tidak lagi harus ditakuti dengan berselimut, tapi harus dibangunkan bukan ditidurkan!

Ayat Ini merupakan perintah dakwah! Setelah berhari-hari kita resah, dengan bertahannus di rumah, maka langkah selanjutnya adalah bangun dari berdiam diri lalu “berikan peringatan!”. Ini merupakan tugas berat setiap muslim, namun ini juga merupakan kewajiban. Tugas kerasulan telah diterima, maka tidak perlu lagi takut dengan tugas itu, tapi bangun dari ketakutan dan berikan peringatan. Perintah dakwah telah diperdengarkan, maka tidak perlu takut dengan tugas itu, tapi bangun dari ketakutan itu dan berikanlah peringatan.

4. Dan agungkanlah Tuhanmu

Tugas selanjutnya adalah mengagungkan Allah. Ayat ini memberi pelajaran bahwa hendaknya dakwahan “Laa ilaaha illallah” teragungkan di mana-mana. Selan itu hendaknya tidak ada yang diagungkan kecuali hanya Allah semata. Tidak ada yang mengagungkan patung. Tidak ada yang mengagungkan uang. Tidak ada yang mengagungkan harta, dan lain sebagainya.

5. Dan bersihkanlah pakaianmu

Ayat ini merupakan perintah untuk berthoharo. Selain ini, pelajaran yang terkandung dalam ayat ini adalah, penampilan seorang muslim yang berdakwah harusnya selalu rapi, bersih, dan enak dipandang oleh pancaindra. Penampilan yang dimaksud bukan hanya penampilan zhohiriyah belaka yang mempertontonkan pakaian, namun lebih dari itu penampilan yang dimaksud adalah kesesuaian antara materi dakwah dengan apa yang dicontohkannya. Kesesuaian antara dakwah billisan dengan dakwah bil hal. Sehingga dalam berdakwah akan terlihat bersih antara yang zhohir dengan yang bathin.

Selanjutnya ayat ini seolah berkata, “bersihkanlah tingkahmu! Bersihkanlah akhlakmu! Bersihkanlah hatimu!”

6. Dan tinggalkanlah segala perbuatan yang keji

Setelah tugas dakwah dilaksanakan, maka satu persatu tinggalkanlah perbuatan keji! Hal ini untuk mencontohkan antara kesesuaian dakwah billisan dengan dakwah bilhal

Selain itu, ayat ini merupakan larangan untuk berbuat keji setelah seorang muslim berdakwah, mengagungkan Allah dan membersihkan diri!

7. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak

Tugas dakwah hendaknya jangan dimaksudkan untuk memperoleh balasan. Oleh karena itu, tugas dakwah secara ikhlas merupakan niat yang menjadi pondasi bagi setiap muslim

8. Dan karena Tuhanmu bersabarlah!

Dakwah yang dilakukan sedikit banyak akan mengalami hambatan-hambatan, bahkan rintangan. Pada kondisi seperti ini hendaklah segala sesuatu niat baik dikarenakan Allah SWT. Dan pada kondisi seperti itu, hendaklah bersabar.

Setelah wahyu kedua diterima, maka Rasulpun menggiatkan dakwahnya. Dakwah yang dikembangkan Rasul memiliki manajemen yang rapi dan terstruktur serta perlahan. Akan tampak seperti yang dilakukannya lewat :

- Berdakwah sembunyi-sembunyi

Berdakwah dengan bersembunyi merupakan langkah awal yang dilakukan Rasul. Dakwah dengan performa seperti ini mementingkan agar orang-orang terdekat diselamatkan terlebih dahulu. Seperti yang dikatakan dalam al-qur’an “jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Pada prakteknya, dakwah dengan model ini memiliki keunggulan tersendiri yaitu lahir orang-orang yang disebut asabiqunal awwalun.

Berdakwah dengan model ini mengajarkan kepada kita bahwa dakwah harus dimulai dari yang terkecil, lewat orang-orang di sekitar kita, juga orang-orang terdekat. Dakwah ini juga lebih efektif, karena dapat dilakukan dengan pendekatan personal. Sehingga dari sedikit-demi sedikit akan tercipta jaringan yang makin hari akan semakin kompleks. Lambat laun, jika setiap muslim mendakwai orang-orang terdekatnya, kemudian orang terdekat itu mendakwahkan orang terdekatnya yang lain, maka akan tercipta kondisi multi level dakwah.

- Berdakwah terang-terangan

Setelah multi level dakwah tercipta, maka performa dakwah selanjutnya harus menunjukkan kebesarannya lewat dakwah dengan terang-terang. Berdakwah di tengan orang yang lebih banyak. Sebagai wujud dari pelaksanaan amanah, layaknya Rasulullah menerima amanah lewat wahyu pertama (al-‘alaq) kemudian dikuatkan dengan perintah berdakwah lewat wahyu yang kedua (al-mudatsir)

Maka Saudara! Tugas dakwah telah diterima, mari kita bangun dakwah itu lewat berbagai macam cara dan performa yang dapat dibanggakan!

Medan, 7 april 2011

Bangsur_5:07

0 komentar:

Poskan Komentar